Jumat, 11 Mei 2012

Segelintir Tentang Opium


Papaver somniferum a.k.a. poppy

Nama Ilmiah : Papaver somniferum
Panggilan : Opium/ Poppy
Dalam Bahasa Indonesia : Apiun
Warna bunga : Pink, ungu, merah, putih
Jenis tanaman : Obat2an, musiman
Tinggi : Beberapa diantaranya dapat tumbuh antara 13-91 cm
Catatan : Beracun.

Opium, apiun, atau candu (slang Bahasa Inggris: poppy) adalah getah bahan baku narkotika yang diperoleh dari buah candu (Papaver somniferum L. atau P. paeoniflorum) yang belum matang.
Opium merupakan tanaman semusim yang hanya bisa dibudidayakan di pegunungan kawasan subtropis. Tinggi tanaman hanya sekitar satu meter. Daunnya jorong dengan tepi bergerigi. Bunga opium bertangkai panjang dan keluar dari ujung ranting. Satu tangkai hanya terdiri dari satu bunga dnegan kuntum bermahkota putih, ungu, dengan pangkal putih serta merah cerah. Bunga opium sangat indah hingga beberapa spesies Papaver lazim dijadikan tanaman hias. Buah opium berupa bulatan sebesar bola pingpong bewarna hijau.
Istilah untuk candu yang telah dimasak dan siap untuk dihisap adalah madat. Istilah ini banyak digunakan di kalangan para penggunanya bukan hanya sebagai kata nomina tapi juga kata kerja.
Getah poppy
Produksi
Buah opium yang dilukai dengan pisau sadap akan mengeluarkan getah kental berwarna putih. Setelah kering dan berubah warna menjadi cokelat, getah ini dipungut dan dipasarkan sebagai opium mentah.
Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi. Kalau getah ini diekstrak lagi, akan dihasilkan morfin. Morfin yang diekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Limbah ekstrasi ini kalau diolah lagi akan menjadi narkotik murah seperti "shabu".
Tanaman opium yang berasal dari kawasan pegunungan Eropa Tenggara ini sekarang telah menyebar sampai ke Afganistan dan "segitiga emas" perbatasan Myanmar, Thailand, dan Laos.
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Afganistan saat ini merupakan penghasil opium terbesar di dunia dengan 87%. Laos juga merupakan salah satu penghasil terbesar.
Hamparan bunga yang indah ini ternyata narkotika !
Di Indonesia, bunga poppy yang tidak menghasilkan narkotik banyak ditanam di kawasan pegunungan seperti Cipanas, Bandungan, Batu, dan Ijen.

Dalam produksinya dan dalam menopang perdagangan Apiun secara legal (dibawah lindungan hukum), banyak dibangun ladang Apiun (namun masih dengan lokasi yang dirahasiakan).
Saat bunga-bunga yg hanya berumur beberapa hari itu sudah menjadi buah yang masak, penuai akan mulai menuainya dengan cara memotong tangkai buah tersebut.
Di dalam buah yang kaya kandungan alkaloid tersebut, terdapat butiran-butiran benih kering sebesar kapsul. Benih inilah yang kemudian mulai dipasarkan di dunia kuliner.

Fruit Salad with Poppy Seed Dressing <segar>

Benih dari buah Apiun yang masak sering dipergunakan dalam membuat ‘snack bagels’. Walaupun ‘bagels’ tidak menimbulkan efek narkotika, namun setelah dikonsumsi tetap dapat memicu reaksi positif pada tes urine untuk narkoba.
Bagels opium <enak>

Apiun untuk narkotika diperoleh dengan cara menyayat buahnya hingga mengeluarkan getah putih yang lengket. Setelah kering, getah tersebut akan berubah warna menjadi kecoklatan. Kandungan getah tersebut berisi campuran narkotika alami alkaloid, termasuk morfin dan kodein. Morfin adalah acetylated untuk menghasilkan diacetylmorphine (atau lebih dikenal sebagai heroin.
Apiun adalah jenis narkotika yang paling berbahaya. Dikonsumsi dengan cara ditelan langsung atau diminum bersama teh, kopi atau dihisap bersama rokok atau syisya (rokok ala Timur Tengah).

Efek dari poppy
Efek Opium
Pada mulanya, pengonsumsi Apiun akan merasa segar bugar dan mampu berimajinasi dan berbicara, namun hal ini tidak bertahan lama. Tak lama kemudian kondisi kejiwaannya akan mengalami gangguan dan berakhir dengan tidur pulas bahkan koma.
Jika seseorang ketagihan, maka Apiun akan menjadi bagian yg melekat di hidupnya. Tubuhnya tidak akan mampu lagi menjalankan fungsi-fungsinya tanpa mengonsumsi Apiun dalam dosis yang biasanya. Dia akan merasakan sakit yang luar biasa jika tidak bisa memperolehnya. Kesehatannya akan menurun drastis. Otot-otot si pecandu akan layu, ingatannya melemah dan nafsu makannya menurun. Kedua matanya mengalami sianosis dan berat badannya akan terus menyusut.

sumber : berbagai sumber

Lelaki yang Dulu Kupanggil Paman




Lelaki yang Dulu Kupanggil Paman
 Apalagi yang kau inginkan setelah menggerogoti hidup kami, mencungkili bola mata ibu kami, menggerus tulang belulang ayah kami? Terakhir kali kau datang untuk melucuti pakaian kami, sehingga kami menggigil kedinginan. Kami sudah tak punya apa-apa, bahkan impian saja sudah menjadi sesuatu yang berlebihan jika kami menginginkannya.
Sungguh kami menyesal, mendukungmu dalam pemilu lima tahun lalu, kami kira janji-janji itu benar, kami bisa bersekolah dengan murah, makan tiga kali sehari, menjadi pesakitan tanpa takut mati atau setidaknya karya kami dihargai.


Aku malu membayangkan semua itu, apalagi ketika kulihat kau tertawa terbahak sampai air liurmu muncrat ke kamera para wartawan. Perutmu mengeluarkan kentut busuk ke seluruh penjuru rumah dinasmu yang agung. Tak satupun berani menutup hidung. Kau dan bualan konyolmu adalah harga mahal jika diabadikan di atas kertas atau ditayangkan berulang kali melebihi gossip selebriti.


Kulihat kau sekali lagi, dengan bibir miring ke kiri melirik jam tangan keluaran luar negeri yang nominalnya saja bisa membuat seorang gadis menjual harga diri. Membuat seorang ayah menggadai anaknya sendiri dan mampu membuat seorang pejabat menandatangani proposal fiktif buatan sendiri.


"Ah, saya ada rapat sebentar lagi, sampai di sini dulu ya, hahaha!" aku tak mengerti apa yang kau tertawakan. Apakah lontaran tanya pers yang menggantung di udara ataukah peluh mereka yang berjatuhan sia-sia. Aku sangat berharap, kau menertawai dirimu sendiri yang mulai kehabisan alibi atas kesengsaraan kami.


Terakhir kali aku mendengar cerita dari kerabat yang pernah kau durhakai, keluargamu telah mencapai titik kehancuran. Istrimu berselingkuh dengan supirnya seperti kau yang meniduri sekretaris pribadimu. Anak lelakimu sukses menjadi bandar marijuana dan pil anjing yang sekarang mendekam di sel mewah yang kau bayari setiap bulannya, lalu putrimu satu-satunya dikabarkan sedang menempuh pendidikan setingkat Doktoral di negeri tetangga. Dia kau bilang pembangkang karena tak menganggapmu sebagai Ayah.


Setiap kali mendengar kabar-kabar tentangmu, kami sekeluarga selalu mendiskusikannya hingga larut. Ayahku yang lumpuh mendengarkan dengan hikmat lewat pembaringan kumal yang hampir busuk. Ibuku yang buta terduduk di sudut dapur yang penuh dengan jelaga yang tanpa dia sadari akan berjatuhan ke tubuhnya seperti salju berwarna hitam.


Saudara-saudaraku membahas setiap lakumu seperti para Wakil Rakyat memperdebatkan sebuah kasus yang bukan bidangnya. Perbincangan itu menjadi debat kusir yang berujung pada ketidaksepahaman pendapat oleh masing-masing pihak, sebab itulah aku selalu paham mengapa setiap kasus yang digarap oleh sekumpulan orang yang mengaku mewakili rakyat itu, tak pernah jelas penyelesaiannya.


* * *


Lama aku terpekur memandangi sosokmu yang memenuhi layar televisi butut kami. Kau dengan jas kebesaranmu itu, akhir-akhir ini semakin banyak diperbincangkan seolah-olah kau adalah pakar setiap bidang ilmu. Di satu channel kau membicarakan politik kerakyatan, kemudian di channel lain. Kau bahas permasalahan pidana pencucian uang, padahal lewat cerita ayah dulu, kau bahkan meraih gelar sarjanamu lewat membeli paket di sebuah universitas yang memperjualbelikan pendidikan.


Sekali waktu pernah kubaca sebuah artikel yang berisi penelitian tentang orang-orang pembual. Ciri-cirinya persis kau dan saudara-saudaraku menjadikannya bahan guyonan sampai kami tertawa terkencing-kencing. Namamu selalu mereka jadikan tokoh antagonis yang nasibnya berakhir tragis dalam dongeng-dongeng pengantar tidur anak-anak mereka.


Masih ingat di benakku bagaimana dulu kau selalu datang ke rumah kecil kami dan mengelus kepala kami satu persatu, lalu membelikan kami jajanan pasar yang kita makan bersama. Dulu sekali saat kau masih bukan siapa-siapa.


Bersama ayahku kalian mulai menyusun sebuah program yang akan mengantarkanmu menuju sebuah kursi yang kalian sebut ‘masa depan’. Siang malam kau dan ayah mengumpulkan rupiah, mencari kolega, mengadakan pertemuan-pertemuan untuk menyatukan pendukungmu, lalu kerja keras itu benar-benar menjadikanmu tokoh sentral yang hanya dengan mengedipkan mata kau bisa mendapatkan segalanya.


Sungguh, aku tak percaya! Kau sedang jaya-jayanya ketika ayahku jatuh kelelahan di kantormu. Kau menyuruh pengawal-pengawal bodoh itu menyingkirkannya. Satu kalipun kau belum pernah menjenguknya sampai dia sadar dari koma dan sekarang terbujur seperti mayat hidup. Kau hanya mengiriminya karangan bunga bakung, namun baru sekang aku tahu, bunga itu tanda berkabung atas kematian.


Ibuku, yang dulu sering kau panggil kakak, mendatangimu berkali-kali dan kau usir berkali-kali. Dia menangis berhari-hari, hingga di suatu pagi dia menabrak setiap dinding rumah karena kehilangan cahaya matanya.


Aku dan saudara-saudaraku yang masih bau kencur, hanya melihat mereka dalam diam, sesekali kami peluk kedua orang itu jika perut mulai keroncongan. Seperti anak burung yang mulai belajar dewasa dengan paruhnya sendiri kamipun belajar bagaimana caranya bertahan meski harus saling memakan sesama di jalanan.


* * *


Pagi ini, ketika sedang memainkan sebuah lagu milik salah satu band ibukota di perempatan jalan raya yang biasanya macet hingga puluhan menit, aku tak sengaja melihat sosokmu yang berkaca mata hitam di dalam sebuah kendaraan mewah berplat merah.


Aku berjalan mendekat menuju kaca jendela di samping kananmu, lalu berdiri dan menatapmu dalam terpaku. Supirmu melemparku dengan recehan seraya mengusirku menjauh. Kau melirik sambil melepas kaca mata mahal itu. Mata kita terpaku beberapa saat. Ingin sekali kupecahkan kaca yang membatasi kita, lalu kujambakkan rambutmu. Menghantamkannya kemana saja, tapi aku hanya bisa terpaku dengan air mata menetes.


"Masih kurang?" tanyamu setengah mengejek, tak kusangka kau menurunkan kaca dan melemparkan selembar sepuluh ribuan ke wajahku.


"Sampaikan salamku pada Ayahmu!" katamu lagi, lalu kaca naik dan kau kenakan lagi kaca mata hitam itu. Bunyi klaksonlah yang menyadarkanku, lampu lalu lintas telah kembali hijau.


Aku melangkah terburu-buru menuju ke tepi. Saat jalanan sepi, kulihat dua orang bocah memperebutkan uang yang kau lemparkan tadi. Aku merasa senang tak mengambilnya, tetapi entah mengapa ada sesuatu yang sesak di hatiku. Apakah aku merasa, aku benar-benar kehilangan seorang paman gembul yang suka bercanda denganku di teras rumah atau karena dendam berlipat ganda yang semakin menumpuk dan merasa jijik atas pertemuan tadi, entahlah.


Setengah jam memikirkanmu membuatku muak, lalu tersadar, kau belum mendapatkan seribu rupiahpun hari ini. Aku bernyanyi lagi sambil matahari bersembunyi di sudut bumi yang lain.


Aku tiba di rumah ketika saudara-saudaraku sedang berkumpul dan menggigiti ubi rebus yang masih panas. Mulut mereka terbuka dan mengeluarkan uap-uap yang mengepul. Mereka tak pernah mengaduh karena panas, kelaparan memang menutupi keluhan-keluhan manja saudara-saudaraku. Mereka, anak-anaknya, juga aku, bukan orang yang suka mengeluh meski hidup bersimbah peluh.


"Wah, makan besar nih!" aku berjongkok dan melongok ke dalam panci berukuran besar yang pantatnya berkerak hitam, singkong dan ubi mengepul baru matang.


"Ayo Om, entar keburu habis, sikat!" salah satu keponakanku dengan gesit menyerahkan sebongkah ubi panas dengan tangan mungilnya.


"Makasih Andi, hahaha, ayo sikat!" aku meniru ucapannya diikuti tawa serumah yang menghantam-hantam gubuk reyot kami.


Kulihat ibu di sudut lain, menguyah ubi, menggigitinya lalu menyuapkannya ke mulut ayah. Keduanya terlihat begitu mesra, begitu saling membutuhkan dan ketergantungan. tetapi aku sungguh tak bahagia, kebahagiaanku lenyap sejak keduanya menjadi batang yang kian kerontang.


* * *


Pagi tadi, sebuah berita tiba-tiba saja menjadi isu utama yang dibahas di semua media massa. Berita semakin gempar karena tentang salah satu kandidat terkuat Pemilu-Kada bulan depan. Kau, laki-laki yang pernah kupanggil paman, yang pernah menemaniku bermain kelereng di halaman. Dulu membelikan kami jajanan dan es cendol kesukaan, terpanggang di atas mobil mewah terbarumu.


Mobil yang kemungkinan besar kau dengan mengambil alih hak anak-anak yang sedang menggelandang. Hak para guru honorer yang air ludahnya hampir mengering. uang yang harusnya menjadi jatah bayi-bayi kurang asam folat yang tergeletak di atas kasur apek dengan kepala yang terus membesar. Begitulah televisi memberitakan.


Aku menelan ludah berkali-kali. Bukan karena bangkai tubuh gosong yang tersorot kamera. Bukan pula karena tangisan dari istrimu yang meraung sadis padahal kepura-puraan bertahta balik kaca mata hitamnya. Aku hanya takut ada jejakku yang tertinggal di garasi rumah kalian. Jejak yang mungkin tak sempat kuhapus semalam.


oleh: Eka Handayani Ginting.
Harian Analisa
Simalingkar Medan, 15 November 2011.





Kamis, 03 Mei 2012

20 Kebetulan yang Aneh dan Lucu


1. Pada tahun 1979, majalah German - Das Besteran – mengadakan lomba mengarang.
Para penulis harus mengirimkan cerita yang tidak biasa, tapi harus berdasarkan kisah nyata.
Pemenangnya, Walter Kellner dari Munich, akhirnya memenangkan lomba itu dan ceritanya dimuat.
Ia menulis tentang saat ia menerbangkan pesawat Cessna 421 antara Sardinia dan Sicily. Pesawatnya mengalami masalah di laut, mendarat di atas air, akhirnya ia terapung-apung dgn pelampung darurat cukup lama sebelum akhirnya diselamatkan.
Cerita ini tak sengaja dibaca oleh seorang warga Austria, yang namanya juga Walter Kellner, yang menuduh si Kellner dari Jerman telah menjiplak ceritanya. Kellner dari Austria mengatakan bahwa ia menerbangkan pesawat Cessna 421 melewati laut yang sama, mengalami masalah mesin, dan akhirnya harus mendarat di Sardinia. Jadi intinya, itu cerita yang sama, tapi dengan akhir yang berbeda. Majalah tersebut mengecek kebenaran cerita mereka berdua, dan dua2nya ternyata benar, bahkan nyaris sama persis.



2. Pada 28 Juli 1900, Raja Italia Umberto I makan malam di sebuah restoran di kota Monza. Ternyata si pemilik restoran wajahnya sama persis dengan raja. Nama pemilik restoran itu juga Umberto, dan nama istrinya juga sama dengan nama ratu, bahkan restoran itu dibuka pada tanggal yang sama dengan pelantikan raja.
Si pemilik restoran Umberto mati tertembak keesokan harinya. Begitu pula Raja Umberto.



3. Claude Volbonne membunuh Baron Rodemire de Tarazone dari Perancis pada tahun 1872. 21 tahun sebelumnya, ayah Baron telah dibunuh juga oleh seseorang yang lain yg juga bernama Claude Volbonne



4. Pada 13 February 1746, seorang Perancis, Jean Marie Dubarry, dieksekusi karena telah membunuh ayahnya.
Tepat 100 tahun kemudian, tanggal 13 February 13, seorang Perancis juga, yang juga bernama Jean Marie Dubarry, dieksekusi – juga karena membunuh ayahnya.



5. Pada tanggal 26 November 1911, tiga orang pria dihukum gantung di Greenberry Hill di London setelah terbukti bersalah atas pembunuhan Sir Edmund Berry. Nama mereka bertiga antara lain Green, Berry dan Hill.



6. Aktor asal British Anthony Hopkins senang sekali saat ia mendapatkan peran utama dalam film yang berdasarkan sebuah buku berjudul The Girl From Petrovka yang ditulis George Feifer. Beberapa hari setelah menandatangani kontrak, Hopkins pergi ke London untuk membeli buku tersebut. Ia mencoba beberapa toko buku tetapi tidak ada yang menjualnya. Saat menunggu kereta pulang di Leicester Square, ia melihat ada sebuah buku yang tergeletak begitu saja di kursi tunggu. Ajaibnya, ternyata itu buku The Girl From Petrovka. Ternyata kebetulan itu tidak sampai di situ saja.
Dua tahun kemudian, saat sedang syuting film di Vienna, Hopkins dikunjungi oleh George Feifer, pengarang buku tersebut.
Feifer menyebutkan bahwa ia kehilangan buku miliknya sendiri. Ia meminjamkan buku miliknya – dengan beberapa catatan tulisan tangannya sendiri – kepada temannya, yang kemudian kehilangan buku itu di suatu tempat di London. Dengan terheran-heran, Hopkins memberikan Feifer buku yang ia temukan. 'Ini bukunya?' tanyanya, 'dengan catatan di pinggiran halamannya?' Itu buku yang sama.



7. Seorang petugas Inggris, Major Summerford, ketika sedang bertempur di daerah Flanders pada February 1918 terjatuh dari kudanya karena tersambar petir dan ia menjadi lumpuh dari pinggang ke bawah. Summerford pensiun dan pindah ke Vancouver.
Satu hari pada tahun 1924, saat ia memancing di pinggir sungai, sebuah petir menyambar pohon di mana ia sedang duduk dan melumpuhkan tubuh bagian kanannya. Dua tahun kemudian Summerford sudah cukup pulih dan sudah bisa berjalan-jalan di taman. Dan ia sedang berjalan2 di taman itu di musim panas pada tahun 1930 saat sebuah petir kembali menyambarnya, dan akhirnya melumpuhkannya secara permanen. Ia meninggal dua tahun kemudian. Tetapi petir nampaknya belum puas dan masih mengejarnya. Empat tahun kemudian, saat badai, petir menyambar kuburan dan menghancurkan sebuah batu nisan. Siapa yang terkubur di bawah nisan itu? Major Summerford



8. Pada tahun 1899 sebuah petir membunuh seorang pria saat ia berdiri di halaman belakangnya di Taranto, Italy. 30 tahun kemudian, anaknya mati dengan cara yang sama di tempat yang sama. Pada 8 October 1949, Rolla Primarda, cucu dari korban pertama dan anak dari korban kedua, menjadi korban yang ketiga.



9. Henry Ziegland mengira ia sudah berhasil menghindar dari takdirnya. Pada tahun 1883, ia memutuskan hubungan dengan pacarnya.
Karena stress gadis itu kemudian bunuh diri. Kakak laki2 gadis itu sangat marah sehingga ia mengejar Ziegland dan menembaknya.
Pria itu setelah mengira ia telah membunuh Ziegland, menggunakan pistolnya untuk membunuh dirinya sendiri. Tetapi Ziegland belum mati. Peluru tersebut, ternyata hanya menggores wajahnya dan bersarang di sebuah pohon. Ziegland jadi yakin bahwa ia pria yang beruntung.
Tapi beberapa tahun kemudian, Ziegland memutuskan untuk menebang pohon itu, yang masih ada peluru di dalamnya. Tugas itu nampaknya sulit sehingga ia memutuskan untuk meledakkannya dengan beberapa dinamit.
Ledakan itu melontarkan peluru tersebut ke kepala Ziegland dan membunuhnya



10. Cerita tentang kembar identik yang nyaris sama hidup bersama biasanya menakjubkan, tapi mungkin tidak ada yang bisa menyamai cerita dua kembar identik yang lahir di Ohio. Kakak adik kembar itu terpisah saat lahir, diadopsi oleh keluarga yang berbeda.
Meski tak saling mengenal, kedua keluarga yg berbeda sama-sama menamai mereka James. Dan kebetulannya belum berhenti sampai di situ saja. Kedua James tumbuh besar tak saling mengenal, tetapi keduanya mencari pelatihan law-enforcement training, keduanya sama-sama memiliki kemampuan dalam menggambar mekanik dan pertukangan, dan mereka sama-sama menikahi wanita yang bernama Linda.
Mereka berdua punya putra, yang satu dinamai James Alan dan yang satu lagi menamai anaknya James Allan. Kedua kembar itu juga menceraikan istri mereka, dan menikahi wanita lain – yang sama-sama bernama Betty. Dan mereka sama-sama punya anjing yang diberi nama Toy.
Empat puluh tahun setelah mereka terpisah, kedua kembar itu berkumpul kembali, dan kemudian berbagi cerita kehidupan mereka yang ternyata mirip satu sama lain (Source: Reader’s Digest, January 1980)



11. Pada abad 19, penulis horror terkenal, Egdar Allan Poe, menulis sebuah buku berjudul ‘The narrative of Arthur Gordon Pym’.
Buku itu mengisahkan empat orang yang berhasil selamat dari kecelakaan di laut, mereka berada di kapal di laut terbuka berhari-hari sebelum akhirnya mereka memutuskan untuk membunuh dan memakan petugas kabin yang bernama Richard Parker.
Beberapa tahun kemudian, pada tahun 1884, sebuah kapal, Mignonette, tenggelam. Yang selamat hanya 4 orang, yang berada di kapal kecil berhari-hari. Kemudian diketahui, anggota kru yang lebih senior, membunuh dan memakan petugas kabin.
Nama petugas kabin itu Richard Parker



12. Pada tahun 2002, dua pria bersaudara kembar berumur 70 tahun mati dalam jam yang sama di jalan yang sama tapi kecelakaan yang berbeda di Finlandia.
Kakak kembarnya mati saat ia tertabrak kereta lori saat ia mengendarai sepedanya di Raahe, 600 kilometer dari Helsinki.
Ia mati hanya 1.5 km dari tempat di mana saudaranya dibunuh. “Ini benar-benar kebetulan yang pantas diingat.
Meskipun jalannya cukup padat, tapi kecelakaan tidak terjadi setiap hari,”
Petugas polisi Marja-Leena Huhtala saat diwawancara Reuters mengatakan “Aku jadi merinding saat aku tahu mereka ternyata bersaudara dan kembar identik. Aku jadi berpikir mungkin yang di atas sana punya rencana untuk hal ini.” (Source: BBC News)



13. Joseph Aigner adalah seorang pelukis potret pada abad 19 di Austria yang nampaknya seorang pria yang tidak bahagia.
Ia beberapa kali mencoba bunuh diri. Pertama kalinya, saat berusia 18 tahun ia mencoba gantung diri, tetapi dicegah oleh kehadiran seorang biksu Capuchin yang misterius.
Waktu berusia 22 tahun ia mencoba gantung diri lagi, tetapi ia lagi2 diselamatkan oleh biksu yang sama.
Delapan tahun kemudian, ia diajukan ke tiang gantungan karena kegiatan politiknya.
Sekali lagi, hidupnya diselamatkan oleh campur tangan biksu yang sama. Pada usia 68, Aiger akhirnya berhasil bunuh diri, kali ini menggunakan pistol.
Upacara pemakamannya dipimpin oleh biksu Capuchin yang sama – seorang pria yang bahkan Aiger saja tak pernah tahu namanya. (Source: Ripley’s Giant Book of Believe It or Not!)



14. Pada tahun 1858, Robert Fallon ditembak mati oleh teman-teman main pokernya.
Fallon, menurut mereka, telah memenangkan $600 dengan cara curang. Setelah posisi Fallon kosong dan tak ada satu pemain pun yang bersedia mengambil uang $600 yang penuh kesialan itu, mereka kemudian menemukan pemain baru untuk menggantikan posisi Fallon dan memberikannya uang orang mati $600 tersebut untuk dipertaruhkan.
Saat polisi tiba untuk menyelidiki pembunuhan, pemain baru itu telah melipatgandakan uang $600 jadi $2,200.
Polisi meminta agar $600 yang asli diberikan kepada keturunan Fallon – dan ternyata pemain baru tersebut adalah anak Fallon, yang sudah tak pernah bertemu dengan ayahnya selama 7 tahun! (Source: Ripley’s Giant Book of Believe It or Not

15. Ketika Norman Mailer memulai novelnya Barbary Shore, ia tak berencana menggunakan mata-mata Rusia sebagai karakter dalam novelnya. Namun sembari ia menulis, ia mulai memperkenalkan mata-mata Rusia sebagai karakter kecil. Semakin ia menulis, mata-mata tersebut menjadi karakter yang dominan. Setelah novelnya selesai, U.S. Immigration Service menahan seorang pria yang tinggal satu lantai di atas Mailer di apartemen yang sama.
Ia adalah Colonel Rudolf Abel, yang dicurigai sebagai mata-mata Russian kelas atas yang bekerja di U.S. saat itu. (Source: Science Digest)



16. Pada tahun 1920, tiga orang pria Inggris bepergian menggunakan kereta melalui Peru.
Pada saat mereka berkenalan, hanya ada mereka di ruangan tersebut. Perkenalan mereka tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.
Pria pertama nama akhirnya Bingham, dan pria kedua nama akhirnya Powell. Pria yang ketiga ternyata bernama Bingham Powell.
Mereka bertiga tidak berhubungan sama sekali.



17. Pada tahun 1975, saat sedang mengendarai motor di Bermuda, seorang pria tak sengaja tertabrak mati sebuah taxi.
Satu tahun kemudian, kakak laki2 dari pria ini mati dengan cara yang sama. Bahkan, ia mengendarai motor yang sama.
Tak hanya itu, ia juga ditabrak oleh pengendara taxi yang sama, bahkan taxi itu sedang membawa penumpang yang sama!

18. Tahun 1950 di kota Nebraska 15 orang anggota paduan suara seharusnya berkumpul di gereja pada jam 7.20, dalam hidupnya mereka jarang sekalit terlambat, bahkan hampir tidak pernah, tp mereka semua datang terlambat pada hari itu karena berbagai alasan, tiba2 saja pada jam 7.25, gereja itu hancur ditabrak pesawat. 15 orang itu selamat secara kebetulan

19. Tahun 1976 seorang bayi jatuh dari lantai 14 dan mendarat tepat dalam pelukan seorang pria inggris yang bernama Joseph Figlock, setahun kemudian seorang bayi kembali jatuh dari lantai yang sama, dan kembali diselamatkan oleh Joseph Figlock

20. Seorang wanita belanda menemukan cincinnya sendiri yang telah lama hilang, dalam kentang yg hendak ia makan, kemungkinan cincin tersebut jatuh ke ladang kentang dan akhirnya berada dalam kentang



Sumber : http://terselubung.blogspot.com/2012/04/20-kebetulan-yang-aneh-dan-lucu.html